Analisis Sastra Puisi "Suara Malam" Karya Chairil Anwar Kajian Kritik Impresionistik. The purpose of the research conducted is to find out how the characteristics and literary criticism of the poem "Suara Malam" by Chairil Anwar using impressionistic criticism studies based on majas, rhyme, and diction. The research method uses a literature KOMPAS.com - Chairil Anwar menjadi salah satu penyair Tanah Air yang legendaris dengan puluhan puisi maha karyanya.. Banyak sekali puisi Chairil Anwar yang masih dibaca dan digunakan khalayak banyak untuk mengungkapkan perasaan. Salah satu puisi yang memiliki kisah sejarah adalah Karawang Bekasi. Puisi Karawang Bekasi diciptakan Chairil Anwar pada tahun 1948, pasca Kemerdekaan Republik Indonesia. Penulis akan melakukan analisis karya sastra melalui pendekatan psikoanalisa. Dalam pendekatan ini, penulis membatasi analisis pada karya sastra yang berbentuk puisi, yakni puisi berrjudul "Sajak Putih" karya Chairil Anwar yang terdapat dalam antologi puisi "Aku Ini Binatang Jalang" terbitan tahun 1987, yang diterbitkan oleh Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh. Puisi "Krawang Bekasi karya Chairil Anwar" ini termasuk kedalam puisi naratif. Puisi naratif adalah puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita menjadi pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita. Puisi "Krawang Bekasi" ini Dalam puisi Doa, Chairil Anwar sebagai penyair berupaya menyampaikan tema tentang kepasrahan diri seorang makhluk kepada Tuhannya. 2. Suasana Puisi. Suasana gambaran puisi menjadi gambaran keadaan yang menyertai kejadian, peristiwa, atau hal lain yang diungkap dalam puisi. Suasana puisi bisa berupa sedih, mencekam, marah atau bahagia. Dilansir dari jurnal Analisis Puisi "Senja di Pelabuhan Kecil" Karya Chairil Anwar dengan Pendekatan Mimetik (2021), makna puisi Senja di Pelabuhan Kecil adalah tentang keikhlasan. Lewat puisi tersebut, Chairil Anwar menggambarkan rasa kehilangan. Meski senja sangatlah indah, kita harus tetap mengucap perpisahan sewaktu malam datang. Dalam puisi "Kepada Peminta-minta" karya Chairil Anwar bahasa figuratif yang muncul yaitu pada baris ke 4 dan 21. Merupakan majas hiperbola yang bersifat berlebih-lebihan. Muncul majas hiperbola dari kata nanti darahku jadi beku. Selain itu pula muncul majas repetisi pada baris 1 dan 18. Hubungan intertekstual ini terdapat pada "The Young Dead Soldiers Do Not Speak" karya Archibald MacLeish dengan sajak "Krawang-Bekasi" karya Chairil Anwar. C. PEMBAHASAN 1. Analisis struktural 2. Diksi atau pemilihan kata Diksi atau pemilihan kata yang digunakan dalam sajak "Krawang-Bekasi" karya Chairil Anwar yakni: KRAWANG-BEKASI kdcBr.